Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2015

Pulau Alor Yang Mempesona Dan Kitab Al Qur'an Tertua di Asia Tenggara

Pulau Alor Yang Mempesona Dan Kitab Al Qur'an Tertua di Asia Tenggara



Interogasi - Pulau Alor adalah sebuah pulau di gugusan bagian timur Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Telah tersohor jauh-jauh hari sebelumnya oleh mereka para penjelajah dan penikmat keindahan bawah laut. Ya, Alor memang digadang-gadang sebanding dengan keindahan taman bawah laut di Karibia, benarkah itu? Atau bahkan lebih?

Keindahan bawah laut Alor telah disaksikan langsung oleh banyak penyelam dari berbagai negara mulai dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, hingga beberapa negara di Asia. Di perairan sekitar Alor setidaknya ada lebih dari 60 titik menyelam dengan 20 di antaranya berkualitas terbaik di dunia. Titik-titik menyelam tersebut tersebar mulai dari Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura. Sederetan daftar nama titik-titik meyelam di Alor itu dapat membuat bingung dan bertanya-tanya ada apa di bawahnya? Mengapa begitu banyak?

Perpaduan laut Indonesia yang hangat dengan Laut Australia yang dingin telah menjadikan Alor sebagai tempat pertemuan biota laut yang unik sekaligus megah. Saat menyelam di Alor, bahkan mereka yang tergolong para profesional saja tetap berdecak kagum. Bagaimana tidak, di sini mereka dapat menyelam bersama sunfish dan menemukannya lebih dari sekali. Ini jelas diasumsikan ada banyak sunfish atau mola-mola menetap di perairan Alor. Lupakan Seaworld, menyaksikan cara hidup mereka langsung di alamnya adalah sangat luar biasa.



Adalah Magnus Mattsson, salah satu fotografer bawah laut pertama yang telah mengindentifikasikan secara pasti ada lebih dari 50 ekor sunfish di perairan Alor. Bahkan ia pernah menyelam dan bersnorkling sembari bermain bersama sunfish hampir setengah jam lamanya. Berenang bersama sunfish atau bahkan sekelompok orca liar pastinya adalah impian bagi para penyelam dimanapun. Binatang besar ini sering ditemukan di perairan Alor dan sangat luar biasa untuk menyelam bersama mereka demi sebuah kenangan yang tak terlupakan.

Jangan kaget juga apabila melihat lumba-lumba (Delphinidae) melompat kesana-kemari seakan menyambut dan mengajak Anda untuk terjun menyelam bersama. Makhluk yang menakjubkan itu dapat dilihat setiap hari dari atas perahu dan fantastis mereka sesekali mengeluarkan semburan air ke permukaan. Apabila Anda beruntung bisa saja menyaksikan langsung saat sekelompok paus orca (Orcinus orca) bekerja sama untuk memburu lumba-lumba ini. Biasanya mereka melintas antara Oktober hingga November, saat dimana arus laut bersahabat bagi penyelam.

Ada banyak tebing dan jurang di taman bawah laut Alor seakan tak terlukiskan kata-kata. Tersusun seperti rak buku dimana setiap bagian dihuni oleh beragam biota dan karang yang mengagumkan. Semua yang pernah melihatnya secara langsung pasti lebih menyarankan untuk menyaksikannya sendiri lalu bercerita hingga kehabisan kata-kata.

Salah seorang yang berjasa mengenalkan surga bawah air yang memesona ini adalah Kal Muller. Ia telah menuliskan bagaimana keindahan bawah laut Alor dan menyebutnya sebagai taman laut kelas dunia. Dalam dua bukunya yang berjudul “Underwater Indonesia” dan “East of Bali”, Karl Muller mengungkapkan bahwa Alor memiliki air laut yang bersih, biota laut yang beraneka ragam, dan banyak titik selam yang dapat dinikmati bahkan saat malam hari. Ia seakan mengekspos habis-habisan sehingga membukakan mata dunia untuk berbondong-bondong menuju keajaiban bawah laut Alor.

Untuk menuju Alor, khususnya Anda yang datang dari wilayah barat Indonesia, ada penerbangan dari Jakarta ke Bandara El Tari, Kupang. Berikutnya lanjutkan penerbangan ke Bandara Mali di Kota Kalabahi, yaitu ibu kota Kabupaten Alor. Rute penerbangannya masih sangat terbatas beberapa maskapai saja, salah satunya yang setiap hari tersedia adalah maskapai Trans Nusa.

Kegiatan penjelajahan taman bawah air di Alor dapat dimulai dari Pelabuhan Kalabahi dan beberapa dermaga sekitarnya. Operator diving akan mengatur semua perlengkapan, makanan, tujuan, dan transportasi ke berbagai titik menyelam di sekitar Alor, termasuk apabila Anda berminat melakukan penyelaman malam hari. Jangan heran pula apabila di pulau ini rata-rata operator diving adalah orang asing yang fasih berbahasa Indonesia serta telah lama tinggal di Alor dan sekitarnya.

Alor memang bukan pulau besar seperti Flores tetapi cukup mencengangkan di sini telah ditemukan peninggalan sejarah yang luar biasa, yaitu moko dalam jumlah yang amat banyak. Museum 1.000 Moko di Kalabahi Alor bahkan berambisi melewati angka 1.000 koleksi moko. Adalah cukup menjadi tanda tanya bahwa moko di Alor tidak dibuat oleh masyarakat asli Alor karena budaya moko sejatinya berasal dari kebudayaan perunggu Dongson di Vietnam Utara.


Orang Alor sendiri percaya bahwa moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Moko memiliki peranan penting bagi masyarakat Alor, yaitu kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang. Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor moko digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Selain sebagai alat musik tradisional, Moko juga berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor. Hal inilah yang kemudian menyebabkan inflasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor.

Saat ini, moko berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin serta simbol status sosial. Dalam adat dan istiadat pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon isterinya. Moko dipercaya dapat mengikat pernikahan.

Selain moko, Pulau Alor ternyata secara mengejutkan menyimpan sebuah Al-Quran yang berusia 800 tahun. Kitab suci umat Islam tersebut hingga saat ini adalah yang tertua bukan saja di Indonesia tetapi di Asia Tenggara. Terbuat dari bahan kulit kayu dan pewarna alam, Al-Quran ini masih utuh kelengkapan ayat dan suratnya. Tahun 1982, sempat terjadi kebakaran di perkampungan Muslim ini termasuk rumah tempat disimpannya Al-Quran tua tersebut. Untungnya Al-Quran itu selamat dan tidak rusak padahal disimpan dalam kotak kayu yang mudah terbakar. Al-Quran tua ini pada April 2011 pernah sekali dibawa keluar dari Pulau Alor untuk dipamerkan dalam Festival Legu Gam, Ternate, melalui Kesultanan Ternate.



Anda dapat melihat Al-Quran tersebut di Desa Alor Besar yang disimpan oleh Nurdin Gogo, yaitu generasi ke-15 keturunan Iang Gogo, penyebar agama Islam yang datang dari Ternate. Iang Gogo membawa Al-Quran dari kulit kayu ke wilayah ini sekaligus berperan sebagai guru agama Islam. Ia hidup pada masa Sultan Baabullah (1570-1583) tetapi Al Quran tua tersebut diperkirakan sudah ada sebelumnya.

Agama Islam sendiri bukanlah agama mayoritas di Alor tetapi keberadaan Al-Quran tua ini sangatlah berarti bagi masyarakat Kabupaten Alor. Hal itu menunjukan bagaimana kerukunan hidup beragama begitu terjalin harmonis, persis seperti watak masyarakat Alor yang ramah. Bahkan kiranya tidak keliru apabila orang-orang memanjangkan kata Alor yang singkat sebagai: Alam Lestari dan Orang Ramah.

Kamis, 16 Juli 2015

Ketupat dan Lepet Bagian dari Syawalan di Jawa, Apa Maknanya ?

Ketupat dan Lepet Bagian dari Syawalan di Jawa, Apa Maknanya ?

Sumber foto rri.co.id
Ketupat dan Lepet, kedua makanan ini menjadi bagian penting tradisi syawalan bagi umat islam di jawa yang berlangsung tepat pada malam/sore hari tanggal 7 syawal setiap tahunnya.

Bagi anda yang bermukim di jawa pastinya tidak asing lagi dengan tradisi ini, namun tahu kah anda apa sebenarnya makna dari kedua makanan tersebut?


Bapak Tatang Tanggul seorang PNS di BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan) yang juga seorang pemerhati budaya, menuliskan tentang Asal Usul tradisi Syawalan dan Maknanya dalam akun media sosialnya.

Berikut ini isi catatannya yang membuat kami tertarik untuk memuatnya di media ini :

Lebaran...itulah yang diperkenalkan untuk istilah Hari Raya....Idul Fitri...
Islam masuk dan dikembangkan di tanah Jawa melalui budaya...dan kata Lebaran berasal dari kata LEBAR yang berarti selesai, tamat, juga habis.
Maknanya adalah selesai/tamat menjalani puasa sebulan penuh selama bulan Ramadhan...dan juga habis dosa-dosa kita karena insya Allah diampuni Allah SWT, sehingga di hari yang suci ini kita bagaikan terlahir fitri/fitrah kembali...insya Allah....

Dalam menyambut Lebaran ini biasanya disajikan makanan istimewa yaitu Kupat (ketupat) dan Lepet.
Dinamai Kupat (bahasa Jawa/aslinya) yang kemudian berkembang menjadi Ketupat (bahasa Indonesia) merupakan singkatan dari kata "ngaKU lePAT" (mengaku salah) maknanya adalah di hari yang fitri ini kita diberi kesempatan untuk mengakui kesalahan-kesalahan dan minta maaf kepada sesama dan tentu saja yang terpenting adalah memaafkan kesalahan orang lain...baik yang sudah mengaku "lepat" maupun yang belum/tidak mengaku "lepat".

Kupat/ketupat dibungkus dengan anyaman janur kelapa...janur digali dari kata "jan-jane nur" yang berarti inti cahaya (Illahi) dan diutamakan yang berwarna kuning bermakna "kesucian hati"
Anyaman ketupat bersudut tujuh (bucu pitu) berbeda dengan ketupat yang umumnya ada sekarang hanya bersudut enam,...yang bersudut tujuh terkesan lebih gilig (montok) dan lebih bernilai seni...sudut tujuh ini melambangkan jumlah ayat Al Fatiihah yaitu tujuh ayat yang merupakan pembuka (preambule) Kitabullah Al Quranul Karim.

Makanan berikutnya adalah Lepet yang dibuat dari beras ketan yang dibungkus dengan janur tanpa dianyam.
Lepet digali dari kata "Luput lepating lampah" yang dalam bahasa Indonesia berarti "khilaf dan kesalahan laku kehidupan".
Beras ketan sebagai bahan baku Lepet maksudnya adalah supaya lekat/lengket dan dimaknai sebagai "mempererat tali silaturahim" antar-sesama, sedangkan cara membungkusnya hanya dengan menangkupkan janur kemudian diikat tiga yaitu di pangkal, tengah, dan ujungnya melambangkan ikatan kain kafan yang bermakna bahwa cepat atau lambat kita akan tiba gilirannya untuk dikafani dengan tiga ikatan seperti itu....ingatlah bahwa semua yang bernyawa pasti mati, persiapkan bekal kehidupan akhiratmu...

Pada masa dahulu...Kupat dan Lepet tidak disajikan pada tanggal 1 Syawal (lebaran hari pertama) melainkan baru disajikan pada sore hari (bakda Maghrib) tanggal 7 Syawal (hari ke-tujuh lebaran), pada hari pertama lebaran hanya jamuan makan dengan jenis makanan yang umum sedangkan pada hari ke-tujuh baru disajikan makanan istimewa yaitu Kupat dan Lepet....sehingga orang-orang menyebut Lebaran pada tanggal 1 Syawal dengan istilah Syawalan dan menyebut Lebaran pada tanggal 7 Syawal (sore/malam) dengan istilah Kupatan. 

Sangat disayangkan dalam perkembangannya Kupatan ini dikait-kaitkan dengan upacara sedekah bumi, sedekah laut, dan lain-lain yang mengarah ke perbuatan syirik..makanannya dikubur dalam tanah atau dilarung ke laut sebagai persembahan...entah kepada siapa..naudzubillahimindzalik...
karena sesungguhnya Allah SWT tidak butuh persembahan apapun apalagi dalam bentuk makanan...lha wong Allah itu MAHA KAYA dan maha-maha lainnya lagi...

Lebaran diberlakukan dua kali yaitu pada tanggal 1 Syawal dengan hidangan biasa dan pada tanggal 7 Syawal (sore/malam) dengan hidangan istimewa (Kupat dan Lepet) adalah agar kita menyempurnakan/melengkapi ibadah puasa Ramadhan yang sifatnya wajib dengan puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal (tanggal 2 s.d 7 Syawal).

Sekarang nilai-nilai ini sudah mulai luntur...banyak yang mengambil praktisnya...makna-makna tadi banyak yang tidak memahaminya..atau bahkan menganggapnya sebagai bid'ah...padahal sangat boleh jadi para pendahulu (penyebar Islam/wali sanga) menciptakan yang demikian bukan dengan maksud menambah-nambah melainkan hanya sebagai penyemangat dakwah ukuwah islamiyah, bukankah masuknya/penyebaran Islam di Jawa tidak dengan pedang melainkan melalui budaya, dan budaya menunjukkan bangsa...dan sayapun juga ketularan, setidaknya untuk saat ini Lebaran hanya pada tanggal 1 Syawal itupun tanpa Kupat dan Lepet...
Wallahualambishwab.

Jumat, 21 Desember 2012

Legenda Reog Ponorogo

Legenda Reog Ponorogo


Interogasi.net - Budaya - Salah satu ciri khas seni budaya Kabupaten Ponorogo Jawa Timur adalah kesenian Reog Ponorogo. Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan serta tak lepas pula dari dunia mistis dan kekuatan supranatural. Reog mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, unik, eksotis serta membangkitkan semangat. Satu group Reog biasanya terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlah kelompok reog berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran utama berada pada tangan warok dan pembarongnya.


Seorang pembarong, harus memiliki kekuatan ekstra. Dia harus mempunyai kekuatan rahang yang baik, untuk menahan dengan gigitannya beban “Dadak Merak” yakni sebentuk kepala harimau dihiasi ratusan helai bulu-bulu burung merak setinggi dua meter yang beratnya bisa mencapai 50-an kilogram selama masa pertunjukan. Konon kekuatan gaib sering dipakai pembarong untuk menambah kekuatan ekstra ini, salah satunya dengan cara memakai susuk, di leher pembarong. Untuk menjadi pembarong tidak cukup hanya dengan tubuh yang kuat. Seorang pembarong pun harus dilengkapi dengan sesuatu yang disebut kalangan pembarong dengan wahyu yang diyakini para pembarong sebagai sesuatu yang amat penting dalam hidup mereka. Tanpa diberkati wahyu, tarian yang ditampilkan seorang pembarong tidak akan tampak luwes dan enak untuk ditonton. Namun demikian persepsi misitis pembarong kini digeser dan lebih banyak dilakukan dengan pendekatan rasional. Menurut seorang sesepuh Reog, Mbah Wo Kucing “Reog itu nggak perlu ndadi. Kalau ndadi itu ya namanya bukan reog, itu jathilan. Dalam reog, yang perlu kan keindahannya“.



Legenda Cerita Reog
Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya. Selanjutnya kesenian reog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.

Reog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta.

Versi lain dalam Reog Ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Pujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Dari situ terciptalah Reog Ponorogo. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: Rasa kidung/ Ingwang sukma adiluhung/ Yang Widhi/ Olah kridaning Gusti/ Gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Unsur mistis merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.

Warok
Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Seorang warok konon harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.

Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Warok Tua adalah tokoh pengayom, sedangkan Warok Muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan.Menurut sesepuh warok, Kasni Gunopati atau yang dikenal Mbah Wo Kucing, warok bukanlah seorang yang takabur karena kekuatan yang dimilikinya. Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. “Warok itu berasal dari kata wewarah. Warok adalah wong kang sugih wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik”.“Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa” (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).

Syarat menjadi Warok
Warok harus menjalankan laku. “Syaratnya, tubuh harus bersih karena akan diisi. Warok harus bisa mengekang segala hawa nafsu, menahan lapar dan haus, juga tidak bersentuhan dengan perempuan. Persyaratan lainnya, seorang calon warok harus menyediakan seekor ayam jago, kain mori 2,5 meter, tikar pandan, dan selamatan bersama. Setelah itu, calon warok akan ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia lalu dikukuhkan menjadi seorang warok sejati. Ia memperoleh senjata yang disebut kolor wasiat, serupa tali panjang berwarna putih, senjata andalan para warok. Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.

Gemblakan
Selain segala persyaratan yang harus dijalani oleh para warok tersebut, selanjutnya muncul disebut dengan Gemblakan. Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia 12-15 tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Bagi seorang warok hal tersebut adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan selain itu kadang terjadi pinjam meminjam gemblak. Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang gemblak tidak murah. Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat tinggal. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka setiap tahun warok memberikannya seekor sapi. Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan sebuah keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.

Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Selain itu ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan khusus antara gemblak dan waroknya. Praktik gemblakan di kalangan warok, diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar hawa nafsu kepada perempuan.

Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.

Reog di masa sekarang
Seniman Reog Ponorogo lulusan sekolah-sekolah seni turut memberikan sentuhan pada perkembangan tari reog ponorogo. Mahasiswa sekolah seni memperkenalkan estetika seni panggung dan gerakan-gerakan koreografis, maka jadilah reog ponorogo dengan format festival seperti sekarang. Ada alur cerita, urut-urutan siapa yang tampil lebih dulu, yaitu Warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Klana Sewandana, barulah Barongan atau Dadak Merak di bagian akhir. Saat salah satu unsur tersebut beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol. Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggotanya terdiri atas grup-grup reog dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog Nasional. Reog ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya.

By : 2007 arie saksono